2 Lelakiku
16 September 2007
Kurengkuh kedua tangan kecil namun gagah ini
terselip doa disetiap menciumnyaBangunlah sekuat dan sekokoh bahu ayah, anakku
yang bak gunung tak pernah runtuh
dan tak terdera petir
Mama yang selalu cinta ![]()

Kurengkuh kedua tangan kecil namun gagah ini
terselip doa disetiap menciumnyaBangunlah sekuat dan sekokoh bahu ayah, anakku
yang bak gunung tak pernah runtuh
dan tak terdera petir
Mama yang selalu cinta ![]()
menelusuri riak-riak sungai
menapaki bebatuan kecil satu-satu
meski angin masih berdesir ramah
meski matahari masih memancar hangat
aku kelelahan berjalan
tapi,
seharusnya tidak kata temanku
karena katanya eh katanya
ada yang menunggu di ujung jalan
–slamat ulang tahun nike!
–
Pernah sekali lalai
begitu tersentak!
dan menjerit: aku tidak akan mengulangi lagi!!!
Semakin lama aku kalah
Bertumpuk kelalaian kubiarkan
Mau minta maaf
rasanya malu
ampun!
sim sa la bim…
Keluar dari Gua dan jadilah cinderella!
**tringggggg**-he! kok tetep ya? sepatuku tetap sepatu kulit!
dan aku masih tinggal di gua sempit ini. mana???
huh, janji-janji palsu.
Kini kuterkungkung dalam gua tertutup rapat
Dahulu kuberpikir nikmatnya tinggal di gua
Ah, ternyata gua ini pengap dan gelap!
Satu saat cahaya akan datang!
Satu saat cahaya akan datang!
Begitu dahulu kumenyenangkan diri
Bertahun-tahun sudah
Baru kutersadar, sesungguhnya kuhanya sedikit bergerak dan banyak menunggu
Ya, menunggu kekasih-kekasih hatiku menjemput keluar dari gua
UHhh!
Get up! get up girl!
Carilah cahaya dengan akalmu sendiri!
— habis gelap terbitlah terang, begitu kata Kartini. Seperti yang ditulis oleh Pramoedya di bukunya “Panggil saja aku Kartini” yang sedang aku baca minggu ini. Me, masih membaca kata pengantar dan 4 halaman utama ^_^.
Tentang sajak, sebenarnya aku gak bisa buat sajak, hihihihih asal menjungkir balik kata saja dan terdengar sepertinya nyaman didengar kusebut saja sajak, boleh kan?
. Bagi yang gak suka berpuisi-puisi gak ngeh mauku apa nulis begini, oh wajar. Yang lucu, bagi pecinta sastra seringkali menerjemahkan sajakku aneh-aneh dan terlalu dalem, padahal mauku bukan begitu ^_^. Well, inti dari tulisanku diatas: Mandiri sepanjang hayat! Ternyata memang kita tidak bisa mengandalkan pundak orang lain untuk merubah atau menyenangkan kita, pun orangtua pun orang-orang tersayang lainnya
. Itu menurutku, kalo gak setuju, gak maksa kok :p.
Tuhanku menginginkanku begini
Tapi kalo begini aku sulit mencari teman
Jikapun begini aku takkan punya karir
Lalu kenapa menyebut Tuhan Esa?
Karena kutakut disebut kafir…
Tuhanku menginginkanku begini
Tapi kalo begini aku sulit mencari teman
Jikapun begini aku takkan punya karir
Lalu kenapa menyebut Tuhan Esa?
Karena kutakut disebut kafir…
Aku takut kalah maka aku menyuapmu
Aku takut tak sekolah
Maka kusuap sekolahmu
Aku takut menganggur
Maka kusuap kantormu
Aku memang bukan dia yang bernyali baja
Aku memang bukan dia yang berbakat
Aku bodoh!
Maka aku menyuapmu
Jika tak menyuap maka aku tak bisa hidup
“Oh!
Tak bisa hidup?
Bukankah Penguasa hidup dan mati hanyalah Tuhan?”
Memang, tapi janganlah banyak bertitah
Sini kusuap kamu
Aku tahu istrimu di rumah meronta-ronta
Aku tahu anakmu di rumah kurus kering
Mau aku suap?
Enam puluh juta?
Delapan puluh juta?
Seratus juta?
Satu Milyar?!
“Eng… eng…boleh kalo gitu”
Sby, 3 Agustus 05 . teruntuk orang-orang terdekat, maaf aku teramat kecewa…
Atas nama normaku normaku, normamu normamu tak ada yang salah dengan ketabuan
Atas nama fitrah, manusia tersenyum saat kepalanya bertanduk
Aku perempuan, menyebut ini kekeliruan pada lelaki
Lelaki yang punya banyak hasrat pada perempuan
Yang melirik panas baju-baju mini dan samar-samar
Aku perempuan sedih, mengamuk, kecewa dengan lelaki pujaan
Lelakiku yang komputernya penuh dengan gadis2 tak berbaju
Oh dimana lelakiku yang santun dan berbudi pekerti luhur
Lelakiku yang menjanjikan istanaku di dunia
O, akukah perempuan yang ekstrim?
Tak kuduga pamanku yang bersahaja juga suka tempel yang “merah”-”merah”
Tak kuduga bosku yang terhormat juga punya agenda “merah”
Tak kuduga bapak hajiku yang bijaksana juga diam-diam suka mengintip yang “merah”-”merah”
Siapa yang salah?
Fitrah?
Atau hati yang suka berbelok-belok?
‘original sajak on 19-5-05