From 3 days to 3 months
28 Mei 2007
Heeyyy ketemu lagi sama kiyu!

Heeyyy ketemu lagi sama kiyu!
—ditujukan buat yang sedang berburu teman setia ^_^—
Taaruf secara harfiah diartikan sebagai perkenalan. Taaruf yang akan saya obrolkan dalam tulisan ini adalah perkenalan menuju pernikahan. Perkenalan sebagaimana perkenalan dalam pertemanan adalah sebuah pembukaan dalam berteman. Pembukaan berarti belum melakukan berteman. Bisa jadi setelah asl/pls (hahaha pembukaan chatting ala bahulak :D)Â karna gak tertarik ya gak jadi berteman. Jadi kalo selama taaruf sudah mencicipi apa yang ada dalam pernikahan berarti sudah bukan masuk kategori taaruf lagi.
Metode taaruf secara islami yang saya pahami yaitu mencari tahu kepribadian calon pasangan dengan memasang detektif-detektif untuk mengorek informasi dari orang-orang terdekatnya. Dari cerita beberapa keluarga yang sukses dengan metode ini mengaku metode tersebut lebih efektif (sori ya, tidak diteliti secara ilmiah, ceileee..) daripada mengorek langsung pada orangnya karena:
1. perasaan cinta seringkali muncul terlalu awal meski sudah menyadari bahwa dia bukan orang yang tepat untuknya sehingga mekso untuk tetap memilih dia
2. sulit sekali bagi orang lain untuk melalukan pengakuan dosa saat ini di depan orang lain, kecuali mengakui dosa yang lalu-lalu.
Dulu seorang teman yang ingin menggunakan metode taaruf, jadi bingung daftar pertanyaan apa yang harus saya titipkan kepada detektif saya agar pertanyaan tersebut mengena dan mewakili seluruh informasi yang seharusnya saya peroleh. Read the rest of this entry »
Aku nulis draftnya waktu awal mei dulu, tapi ga papa lah tak post sekarang alih-alih buat dokumentasi pribadi juga:
Di Metro tv design and decor hari Minggu tanggal 29 April, ternyata di Indonesia ada sekolah yang menghargai perbedaan kecerdasan anak. Cuman gak jelas nama sekolahnya apa, dan lokasinya di mana soalnya ane ngantuk berat di awal nonton. Di sekolah tersebut yang menjadi bahasan utama adalah sekolah untuk anak prasekolah. Sebenarnya ekolahnya sendiri didesign untuk anak pra sekolah sampai SMU, tetapi mendesain gedungnya menggunakan konsep puzzle… (sori lupa). Jadi setiap masa transisi seperti SD, SMP dan SMU didesign sangat berbeda meskipun berada dalam satu lokasi. Inti dari desainnya adalah agar anak betah dan tidak bosan berada di situ selama 15 tahun. Bagi anak pra sekolah, tempatnya dibuat banyak sesi, untuk seni, logic, bahasa, multimedia, ada koleksi reptil dan jenis hewan lain agar siswa mengetahui langsung prilaku hewan, dan lain-lain pokoknya lengkap deh. Sehingga yang paling penting menurut ownernya anak-anak bisa memutuskan sendiri aku senang yang mana??. Ada kamar mandi yang didesain sedemikian rupa untuk toilet training anak-anak.
Kursi-kursi belajar di sana kebanyakan dibuat dalam bentuk melingkar, nah bukan sistem kelas dengan guru diktator bukan? Pada beberapa kelas dinding sekeliling kelas didominasi oleh kaca, sehingga siswa tidak stuck dan lebih fresh karena sekelilingnya terlihat tumbuh-tumbuhan yang menghijau.
Tips dari salah satu pendidik pra sekolah di sana adalah: Sediakan sebanyak mungkin mainan buat anak baik yang sudah jadi atau barang bekas yang dapat dieksplorasi oleh anak. Misalnya botol plastik, sedotan meski sederhana tetapi bentuknya lentur dan anak-anak bebas mengeksplorasi untuk dibuat bunga misalnya, dan lain-lain. Warna-warna untuk peralatan seperti kursi, meja, lemari mainan, beri warna kuning dan biru untuk ketenangan, abu-abu untuk konsentrasi. lantai juga tidak dibuat monoton putih semua, tetapi diselingi beberapa lantai warna abu-abu dengan model petak abu-abu yang tidak sama dengan petak di lantai bagian lain.
Naah, milih sekolah yang pro multiple intelligence seperti ini atau homeschool?
Percakapan iseng dahulu sebelum punya kiyu:
Pa’e: Kayaknya enakan diajari sendiri di rumah, sekolah kan cuman formalitas
Mama: (O ow… aku kan orangnya gak bisa konsisten, ntar bukannya menyediakan lingkungan edukasi yang kondusif dan santai malah jadi sama-sama malas-malasan wakakaka) Homeschooling ya? Bagus sih, cuman anak juga butuh sosialisasi dengan teman-temannya. Tapi eh, di good morning trans tv kemaren banyak anak-anak istimewa dengan perhatian di rumah mereka sendiri. Atau mengamati anak-anak SD seperti ini:
tanya: Gimana jadi kelas 1 SD kelasnya menyenangkan?
anak1: Huuu sebel, aku gak bisa (sudah lupa) kalo disuruh ngeja lagi tulisan 1 per 1. Soalnya aku dah bisa baca. Jadinya nilai membacaku jelek :(.
anak2: Aku gak suka baca ini budi, ini ani, ini ibu budi, aku senengan baca tulisan yang banyak!
tanya: (pada kelas 5 SD). Gimana sekolahmu?
anak3: Guruku sering ninggalin kelas kalo pagi. Biasanya ibu-ibu guru kalo pagi ada acara masak bersama di dapur sekolah. (Lah..)
Habis itu baca tema homeschooling di mamakintan, trus gak sengaja baca majalah PKPU jadul tahun 2005
bu Neno Warisman memaparkan tentang homeschooling yang menurut beliau pada tahun segitu beliau hanya mampu menerapkan semi homeschooling Read the rest of this entry »