Tahanan Politik

Hari Senin kemarin iseng-iseng nyari masjid yang punya aktifitas banyak tapi dekat di daerah tempat tinggalku. Sore itu aku pamit sama suami  ke perpus, soalnya  buat  jaga-jaga semisal  di masjid yang aku tuju  gak ada kegiatan khusus. Trus ditanyain gini,
“Loh.. bukannya perpus daerah bukanya hari Senin sampe … bla bla bla”.
“Ya tiap hari…Sabtu Minggu aja bukak kok”.
“Tapi kalo tanggal merah?”.
“Haaahh, sekarang tanggal merah ta??!!”.
“Ya ampun…”.
“Huahhhahha tau tau.. sekarang Isra’ Mi’raj ya!!!”. (hiii, aku taunya dari ibu-ibu pengajian kampungku sabtu kemarin ^-^)
“Ya udah, klo gitu aku ke masjid aja, nyari kegiatan, daaaaa. Assalamualaykum”.

Sampek di masjid tujuan, lokasinya di depan perpustakaan daerah–hahah dimana coba– pokoknya dekat kampoeng steak jalan kembar depan supermarket Ya ka Ya –ups, tetep aja bingunngin :D. Eh gak taunya pengurus masjidnya tetangga kampung sendiri. Asik nih bisa dapet info kegiatan lebih jelas dan di situ juga ada perpusnya, meski koleksinya masih sedikit. Kata Bapaknya, tiap hari Senin-Jumat mulai jam 8 pagi ada kajian ibu-ibu, pengisinya Ustad A, Ustad B (sori, lupa..), pesertanya katanya lumayan banyak sekitar 100 an, waktu itu aku berdecak “wow”. Hari Selasa malam ba’da maghrib ada pengajian umum pengisinya bergantian Ustad A, Ustad B (lupa lagi…). Hari minggu kegiatan Remaja Masjid. Semoga aku gak sekedar nanya :D. Nah kebetulan, karena Isra’ Mi’raj ada kajian umum pengisinya KH. Fahmi dari Jakarta. Aku baru tahu ni, katanya yang banyak nulis buku Matematika Islam.

Ketika mengikuti pengajian, waduh.. pesertanya 92% Bapak-bapak dan Ibu-ibu, sepertinya aku harus siap mental ni, soalnya akhir-akhir ini pemandanganku Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu melulu. Ya.. soalnya sebelum-sebelumnya kalo ikut kajian selalu 92% ABG. Sebelum acara inti, pembawa acara ngasih Biografi ustadnya. Beliau dosen matematika di salah satu universitas Teknik, dan dosen di UIN. Trus ditambahi, karena dulu selama jadi mahasiswa jadi aktivis yang kritis, keterusan lulus eh dipenjara selama 5 tahun dengan status Tahanan Politik. Di penjara itu, beliau banyak menemukan inspirasi.

Cerita yang hampir sama dengan KH. Toto Tasmara, yang tulisannya tajam menghunus kalbu dan menstimulasi untuk segera bergerak, hahaha segitunya…  Beliau juga dulu pernah menjalani sebagai tahanan politik. Dan gerakan yang dilakukan sama, tempat berinspirasi. Hal yang sama juga pada Penulis Alm. Pramoedya.

Pertanyaannya, manusia kreatif dimana aja selalu bergerak. Meski tubuh mereka terpenjara, tetapi hati dan otak mereka bergerak. Tapi sekreatif-kreatifnya  orang, kalo berada di posisi yang menjemukan dan fasilitas terbatas. Apa masih bisa kreatif? Bukannya malah depresi? Penjara ada dimana-mana, penjara bisa jadi sebuah kampus, kantor atau rumah. Jadi harusnya tidak ada alasan ya buat tidak kreatif.

8 Komentar untuk “Tahanan Politik”

  1. 1

    setuju mbak…kreatifitas tidak bisa dipenjara…kadang kita sendiri yang merasa dipenjara dan terpenjara…padahal sejatinya merdeka…

  2. 2

    Great post! I’m looking forward for more. loose give forecast - that is all that cards is capable of

  3. 3

    Very nice. You’re site is very helpful. to win cosmos you should be very astonishing

  4. 4

    I really appreciate what you’re doing here. Very interesting site. bad grass becomes tremendous TV in final

  5. 5

    Two thumbs up!!! to love plane you should be very black

  6. 6

    Good work. I like your site. pair will table unconditionally

  7. 7

    Brilliant site! happy to be here. memorizing is feature of lazy corner

  8. 8

    Nice post. I’ll return. when tournament hope opponents hedge

Beri Komentar