Tidak [Ingin] Mendzalimi Orang Lain
Hari Minggu kemarin mauku mengambil sisa barang di kost and say good bye (pamit) to Bapak-Ibu kost, tapi ternyata Bapak-Ibu kost sedang tidak ada di rumah. Ya sudah, kemarin akhirnya hanya mengosongi kamar biar nyaman dihuni oleh anak kost baru. Karna buru-buru, sempet terbesit niat ninggalin sampah-sampah kertas 1 kresek gede dan 1 kresek sedang. Tapi rupanya sang malaikat baik berbisik: “Ayo nike, buang ke tempatnya. Orang yang ditinggalin dalam keadaan seperti ini pasti gondok!”. He he, akhirnya aku bawa keluar deh sampah tadi. Tapi… hujan rintik-rintik mulai turun, terbersit lagi niat ninggalin 2 sampah ini ke tong sampah milik tetangga. Trus aku bilang ke teman karibku, “Boleh gak ya kira-kira nitip sampah ini ke tong itu… ^_^ “. Teman karibku bilang, “Udah full gitu loo…”. Wahhaaaa akhirnya brangkat deh kita ke tempat pembuangan sampah yang gak seberapa jauh sekitar 500 meter
.
Ah, untuk berbuat baik tidak mendzalimi orang lain saja susahnya kok bukan main. Bisikan-bisikan nakal seperti, “biarin ah.. sekali-sekali aja kok ^_^”. Yang paling berat adalah bagaimana kita tetap bisa berbuat baik pada orang lain tapi orang tersebut berbuat sebaliknya pada kita. Nah, semua itu kembali pada keimanan seseorang. Jika dia ikhlas, jika dia ridha maka semua akan dijalani dengan senang hati. Jadi benar sekali jika ingin menguji keimanan seseorang, salah satunya adalah dengan bertanya kepada tetangganya apakah dia nyaman atau tidak bertetangga dengannya
. Efek dari kenyamanan orang lain pada kita adalah sebuah kepercayaan, apapun perkataan baik kita pada orang lain akan disambut dengan senang hati karena mereka telah menilai pada akhlak kita.
Ngomong-ngomong masalah tetangga dan kepercayaan. Dalam sebuah diskusi kajian hari Minggu kemarin, diceritakan seorang mahasiswa(ikhwan) yang kost/kontrak di kampung sekitar kampus ITS seringkali berpartisipasi dalam kegiatan kampung entah itu hanya dengan mengangkat kursi!. Yang pada akhirnya masyarakat mempercayai sosoknya dan dinobatkan menjadi Ketua RT
. Jadi ketua RT itu gak gampang lo, apalagi bagi mahasiswa yang tidak tinggal menetap dimana keberadaan mereka kurang begitu dianggap exist dibanding dengan mereka yang sudah berkeluarga juga kebanyakan mahasiswa itu cuek dengan kepentingan warga, “bukan urusanku si, kan aku bukan orang sini, lagian aku udah terlalu sibuk dengan organisasi, tugas, praktikum, seminar dll :p”.
My hubby ever said, “Ke bu Mus gih ngurusin perjanjian kontrakan masa aku terus.. ntar pak Mus cemburu lo :p. Kamu itu belajar bersosialisasi, di sini tu yang aktif Ibu-Ibunya. Ntar kamu tak jadin Ibu Ketua RT =))”.
27.02.2006 8:55 am
Hahahha… nike dah belajar hidup bertetangga yah,
ingat gak boleh mendzalimi tetangga..
kalau masak n tercium tetangga, harus bagi2.
pingin gak kecium, ada triknya.
kamu masak, mas amru yang standby menghisap asapnya…hahahha just kidding
btw selamat belajar hidup bertetangga yah:)
semoga sukses, amin
10.03.2006 6:15 am
yuhuu!
waduh, tetanggaku gak selera de kyknya klo nyium aroma masakanku =))