Harakah Islam bukan untuk menuntut Ilmu!
Sebagai pembuka read this.
Kalo males baca, intinya seperti ini:
Pernah dengar NII, Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir, dll? Aku pernah mengikuti salah satu dari jamaah ini, 80% topik pembicaraan permasalahan politik, wik aku yang miskin ilmu agama mundur perlahan-lahan dan memutuskan bergabung dengan majelis ilmu yang lain. Ternyata setelah membaca jawaban dari konsultasi ini =)), memang sebuah harakah semacam yang disebutkan di atas tujuan utamanya “kepentingan” politik Islam, mengenai ilmunya hanya sebagai bumbu-bumbunya saja malah di artikel itu disarankan sebaiknya belajar khusus ke Al-Ahzar
.
Keberadaan mereka juga penting sebuah organisasi tempat bersama-bersama memperjuangkan sebuah syariat, bukan sekedar jamaah yang dituding teroris seperti sekarang. Mungkin yang kurang tepat, anggota-anggotanya yang kadar ilmunya semacam aku yang ingin totalitas dalam organisasi tersebut, terlalu semangat mendakwahi orang tetapi kurang ilmu. Dan ini yang dijadikan bahan ejekan oleh beberapa teman maya yang sedang belajar di Al-Ahzar. Ah, mereka juga berlebihan, aku tidak suka cara mereka mengejek.
Akhir kata, mengikuti sebuah organisasi semacam ini penting, dimana kita bisa bertemu teman-teman yang mempunyai visi yang sama dan bisa saling mengevaluasi kadar keimanan kita. Hanya lebih baik untuk tidak terlalu fanatis, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik
, evaluasi kembali tujuan visi dan misi organisasi dengan visi misi kita, jadi gak asal ngikut
. Ato seperti beberapa teman karibku yang mengikuti banyak organisasi sehingga tidak terkungkung ato fanatis pada salah satu dari mereka dan tidak menyebabkan fenomena peserta-peserta harakah yang terkotak-kotak karena nama organisasinya terlalu melekat pada dirinya.
16.01.2006 8:37 am
hehe… Jangan mengikuti trend
MBro | January 15, 2006 @ 4:27 am
nah loe… dengerin apa kata Camis-mu:)
btw emang apapun itu
tergantung pandai kita memilah dan memilih
untuk itu perlu ilmu…:)
sudahkah qta berilmu:)
16.01.2006 9:17 am
yo gpp rek ngikut trend sing apik
biar gaul, funky n syar’i .. hehehe..
sing penting kan menjaga hati tetap bersih, pikiran tetap positip.
melu harokah yo akeh ilmune, kuliah ndik stikom oleh ilmu, nang al Azhar juga bagus, ndik pasar yo enek ilmu ne.. lha wong aku tau dinasehati preman ndik pasar minggu hare.. (kok untung’e gak digepuk’i ..
ancene sing paling susah iku belajar “ilmu ikhlas”
iku ngunu ganok sekolahan’e, ganok ijazah’e, ganok gelar’e
trus ngertine lulus pora mbesuk lek wes di sidang karo Gusti Allah
btw selamat yo ..
tambah siji maneh “geek family” …
16.01.2006 11:32 am
Good blog … congrat y ..
barakalloh ukh…
hopefully, that is the way for optimizing our devotion
benar-benar berita yang indah …
kalau pengalamanku justru mengatakan lain
ada 2 dari temen**q yg asalnya baca qurannya jelek, setelah ikut harokah justru ada peningkatan
mungkin mereka yang berkomentar seperti itu hanya melihat dari satu sudut pandang. Dan itu tidak salah, karena memang hanya dari sudut pandang itu dia menilai.
harokah itu indah jika kita mengikutinya secara kaffah
ada leadership skill-nya, ilmu sosial, komunikasi, motivasi(coz ada dilingkungan trainer;))…
yaa tergantung gimana kita mencarinya kali
soalnya klo tak bandingin ama pondok di kepanjen
tarbiyah di salah satu harokah itu lebih bagus
meski wawasan ilmunya masih kalah
tapi untuk wawasan keilmuan ini memang perlu tahapan
tadi ga ujug** bisa ..
so bener kata antum sesuaikan dengan visi kita
ciee
dan menurut ane visi-visi kita itu insya Alloh masih bisa diakomodir oleh visi harokah …(yg ane tahu dr harokah disekolah qt dl lho )
bahkan antum bisa usulin untuk bikin pelatihan ini dan itu untuk memenuhi kebutuhan ilmu yg antum butuhkan
misal daurah pernikahan…
so, tak ada halangan tuk berharokah ..
klo fanatis yg positif sih emang kita butuhkan
repot juga klo kita punya jundi yg ga fanatis
sekali lagi fanatis yg tetap menghargai orla
mm simple-nya spt sahabat Rosul dulu yg menghargai komunitas yg berbeda dg komunitas Rosul
afwan jiddan ya .. ane dl sering buat salah ke antum
moga ini menjadi perwujudan maaf yg tulus
17.01.2006 2:09 am
#MBro,vitavita: ok, apapun kegiatannya tidak sekedar ngikut
#tri: ilmu ikhlas… dalam konteks tulisan ini, apakah maksudnya ikhlas mengikuti dan berjuang dlm sebuah organisasi meski nantinya tidak akan mendapat gelar, ijazah dll?
#novan: jazakallah kunjungannya
lama gak ada komunikasi..
tulisan ini berusaha mengubah paradigma berpikir bahwa kita tidak cukup mengandalkan 1 organisasi tersebut untuk menimba ilmu dien kita, seperti yang dilakukan oleh teman-teman karib saya dan akh novan, kudu kreatif mengikuti majelis “ilmu” yang khusus.
Fanatis luas deskripsinya ada seseorang yang fanatis memperjuangkan visi di organisasi tersebut dan itu bagus, tapi ada orang yang fanatis terhadap apapun yang ada di organisasinya atau ekstrimnya menuhankan organisasi dan ini menyebabkan beberapa jamaah menjadi terkotak-kotak padahal sebenarnya yg mereka perjuangkan sama
.
Tapi memang benar, peran mereka sangat berarti terutama bagi saya. Alhamdulillah dulu dipertemukan dengan seorang akhwat, sehingga ada titik terang dalam hidup saya
10.04.2008 9:51 am
Perjuangan yang sama dengan jalan yang berbeda, itulah yang kadang membuat orang terkotak-kotak. Tetapi saya berpesan jangan menjadi orang yang kotak-kotak.
Contoh, mau menjadikan Indonesia yang baik sesuai tuntunan syari’at, ummat islam juga terkotak-kotak. Ada PKS, ada PPP, ada PBB ada PBR, mbok yao disatuken saja…..
pasti sulit, karena sudah terkatok=katok