Arsip bulan Desember, 2005

Menghadiri Acara Wisuda

27 Desember 2005

Sabtu kemarin, aku diajak menghadiri acara wisudanya mbak kostku. Cukup banyak yang bisa diambil pelajaran. Mulai dari motivasi buat giat ngerjain tugas kuliah lagi sampai terkagum-kagum sama Ibu dan Bapaknya temannya mbak kostku yang super sabar dan bijaksana :D . Yang terpenting lagi, fotoku jadi ikut diabadikan! ^_^.

Hal lain yang menarik, waktu pembacaan sumpah wisudawan/wati, awalnya kompak menirukan yang dibacakan oleh salah dua (laki dan perempuan) wakil pembaca sumpah tadi. Tapi di baris terakhir yang kurang lebih begini: “sanggup memegang amanat penderitaan rakyat”. Eh kompak diem semua, hi hi hi emang presiden ya? Mungkin di acara wisuda lain ada sumpah yang serupa dan bukan hal baru lagi, tapi bagiku menarik karena ini pengalaman pertama :D . Kapan lagi ya… bisa menghadiri acara wisudanya orang lain, siapa tahu mendengar sumpah seperti tadi lagi ^_^.

Peluang? Mana?!

27 Desember 2005

Awalnya tergerak membuka mata pada dunia entrepreneur, setelah membaca tulisannya Robert Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad (sudah agak lama si). Selanjutnya, jadi pengen baca tulisannya yang lain. Tapi cuman betah beberapa halaman saja. Aku pikir terlalu banyak memberi konsep dan motivasi, bukan praktisnya dan terlalu sulit bagiku untuk mengaplikasikan. Akhirnya banyak browsing tentang pengusaha Indonesia, dan beli buku-buku yang penulisnya orang pribumi. Dengan pemikiran, mungkin lebih mudah dipraktekkan karena sama-sama tinggal di lingkungan yang sama.

Ternyata eh ternyata, sama saja dan membuatku bosan! Mereka bilang, “Hey girl, di dekatmu ada peluang. Ayo cepat ambil!”. Aku cuma diam kebingungan, seperti orang yang bingung gak bisa lihat hantu di film horor Indonesia trus bilang seperti ini, “Mana sih, peluang yang mana? Gak ada tuh!”. “Duhhh, kamu ni dah jelas-jelas dia disampingmu!”. Hiihihi mirip-mirip katanya Bapak ini. Cuma, kalo Bapak tadi masih bisa melihat peluang meskipun sedikit.

Well oh well, yang terpenting bukan cuma membaca. Jadinya aku hentikan sejenak untuk tidak terlalu menekuni membaca tema yang seperti tadi, percuma kalo tidak bisa menghayati dan mempraktekkan seperti yang mereka tulis.

Hey buku, kubuka kembali dikau setelah aku bisa bercanda dengan peluang. Ayo donk peluang…. datanglah, how do you do :) . Bagaimana dengan anda yang mulai suka dengan dunia entrepreneur, sudah punya banyak temen peluang belum?

Service dan Cuci Motor Kilat

20 Desember 2005

Dulu biasanya aku meluangkan satu-satunya hari liburku(Hari Minggu) untuk merawat motor. 1 bulan hanya ada 4 minggu, jadi aku harus mengorbankan salah 2 hari Mingguku untuk duduk manyun menunggu motor dicuci atau diservice. Hampir semua setuju kalo menunggu itu sangat membosankan apalagi di tempat yang agak panas, banyak lelakinya dan kadang-kadang musik dangdutnya itu loh diputer keras-keras :( .

Pernah karena mendesak motor harus masuk bengkel, aku nyoba ngambil waktu istirahat kantor. Eh cepet! paling lama cuma 30 menit loo. Akhirnya jadi kebiasaan, kalo mo service seperti ini:
“Mas, ganti oli…”
“Oh ya”
selesai menjalankan tugas.
“Mas, tolong dicek kampas remnya… kayaknya dah kudu diganti”
“Wah ya mbak.. yang belakang ni udah tipisss…”
“Yang original brapa ya?”
“Delapan belas ribu”
“Oh ya deh, yang original aja”
selesai.
“Mas, itu rantainya kenapa ya… kok bunyi kresek-kresek, apa cuman dikasih oli aja ya? Masa kudu ganti??!!”
“Oh ya, kasih oli aja udah cukup”
“Eh sekalian ya, knalpotnya dikasih oli”
“OK”
“Emm… itu footstepnya agak bengkong, bisa dilurusin nggak?”
“Bisa…”
“Sek, apalagi ya… Oh ya aku kehabisan bensin, bensin 1 liter aja ya..”
“Udah mbak?”
“Udah”
“Ada yang masih ketinggalan?”
“Heheh, udah.. makasih..”
Not more than 30 minutes!.

Trus, kemaren nyuci motor. Sambil pasang tampang buru-buru(eh tapi emang buru-buru kok):
“Mas, bisa nyuci setengah jam nggak?”
“Oh bisaaaaa…. 15 menit aja bisa kok”
Wihh semangat banget, sampek 2 orang yang nyuci motorku. Dan cling* not more than 30 minutes motorku dah cantik ;)

Ini dia tips dan trik service dan cuci motor kilat ala nikenike…

Dia, sarana muhasabah kita

16 Desember 2005

Pengantar: Tulisan ini lebih banyak ditujukan pada wanita ^_^.

Sebagai wanita yang notabene lebih banyak menerima atau menolak daripada memilih, sejak remaja kebanyakan pernah merasakan ‘disenangi’ oleh lelaki lalu diberi penawaran entah menuju ke jenjang yang lebih serius atau hanya ingin menyebut hubungannya sebagai pacaran atau teman tapi mesra.

Bagaimana menyikapinya? Senang? Berbunga-bunga? :D
Dalam sebuah artikel disebutkan bahwa kecenderungan orang memilih pasangan adalah mencari orang yang mempunyai kegemaran yang sama atau mempunyai cara berpikir yang sama. Kalau mengamati lingkungan sekitar sejak jaman SMP sampai dengan sekarang memang benar seperti itu. Dengan teori seperti ini, sebenarnya mereka-mereka yang memberi penawaran tadi lebih bijaknya sebagai sarana muhasabah dalam hal ini ibadah. Seperti apa orang yang datang memberi penawaran itu?

Ada seorang teman merasa sedih sekali, karena beberapa kali pria yang datang tidak seperti yang diinginkannya. Ketika bertemu, dia sibuk memberi buku-buku dan mengajak diskusi studi Islam. Makin sedih lagi ketika dia menanyakan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan dalam hubungan yang masih belum halal, semisal, “Sudah makan belum? Sekarang lagi ngapain??”.
Hikmah darinya: Berarti ada yang salah dengan diri saya. Saya menginginkan seorang ahli ibadah, tapi kenapa yang datang orang-orang yang seperti ini.
Sederhananya seperti ini: kalo kita suka memakai mini skirt, baju ketat, lalu orang-orang yang datang tipe-tipe “mupeng”, jangan marah dan jangan salahkan mereka ;) . Ada juga si fulan fulanah pernah didatangi oleh lelaki non muslim, kalo maunya ‘teman dekat’ meski tidak berkenan dia masih bisa memaklumi, tapi kok ngomongnya ngelantur seperti ini: “Nanti kalo kita menikah, aku gak mau pakai adat Islam. Karena kalau pakai adat Islam harus mengucapkan syahadat”. Tuing tuing #$!@&*&%$!(maaf bukan SARA..). Dalam konteks ibadah dia hanya berpikir, “Apakah orang ini melihat aqidah saya masih bisa ditekuk-tekuk?!”.

Jadi seperti kebanyakan yang ditulis di artikel-artikel dan buku, jika menginginkan akhlaknya sesempurna Rasulullah Muhammad SAW anda harus seperti Siti Khadijah dulu. Dan hendaknya kita tidak menempatkan diri sebagai artis, yang makin senang dengan makin banyak fans, tapi berkacalah :) .

Iman juga perlu dipel!

15 Desember 2005

Barusan iseng sambil minum air putih, aku nengok keluar jendela liatin teras di belakang ruang kerjaku. Ruang Kerjaku memang istimewa dibanding yang lain, paling artistik! Saking artistiknya, kita penghuni di dalamnya diminta merawat ruangan sendiri. Dan aku bersama rekan kerjaku sebagai perempuan diwajibkan menyapu teras setiap hari!

Maaf, karena belum ada naluri keibuan yang suka pusing melihat barang berserakan, kewajiban hanyalah rutinitas! :D Tau? Aku cuman nyapu aja sekenanya, dan memang bedak teras itu masih melekat. Jadi ingat kondisi kostku juga, ruang tengah sepulang kuliah malem hampir tiap hari aku sapu. Tapi komentar mbak kostku, lantainya masih kotor soalnya jarang banget dipel. Naaaahh.. ni dia, kebiasaanku menjalankan kewajiban hanya sebagai rutinitas!!

Apa kabar iman?
Lama gak dipel juga? :D

Keluar dari Gua

15 Desember 2005

sim sa la bim…
Keluar dari Gua dan jadilah cinderella!
**tringggggg**

-he! kok tetep ya? sepatuku tetap sepatu kulit!
dan aku masih tinggal di gua sempit ini. mana???
huh, janji-janji palsu.

Kini kuterkungkung dalam gua tertutup rapat
Dahulu kuberpikir nikmatnya tinggal di gua

Ah, ternyata gua ini pengap dan gelap!

Satu saat cahaya akan datang!
Satu saat cahaya akan datang!
Begitu dahulu kumenyenangkan diri

Bertahun-tahun sudah
Baru kutersadar, sesungguhnya kuhanya sedikit bergerak dan banyak menunggu
Ya, menunggu kekasih-kekasih hatiku menjemput keluar dari gua

UHhh!
Get up! get up girl!
Carilah cahaya dengan akalmu sendiri!

— habis gelap terbitlah terang, begitu kata Kartini. Seperti yang ditulis oleh Pramoedya di bukunya “Panggil saja aku Kartini” yang sedang aku baca minggu ini. Me, masih membaca kata pengantar dan 4 halaman utama ^_^.

Tentang sajak, sebenarnya aku gak bisa buat sajak, hihihihih asal menjungkir balik kata saja dan terdengar sepertinya nyaman didengar kusebut saja sajak, boleh kan? :D . Bagi yang gak suka berpuisi-puisi gak ngeh mauku apa nulis begini, oh wajar. Yang lucu, bagi pecinta sastra seringkali menerjemahkan sajakku aneh-aneh dan terlalu dalem, padahal mauku bukan begitu ^_^. Well, inti dari tulisanku diatas: Mandiri sepanjang hayat! Ternyata memang kita tidak bisa mengandalkan pundak orang lain untuk merubah atau menyenangkan kita, pun orangtua pun orang-orang tersayang lainnya :) . Itu menurutku, kalo gak setuju, gak maksa kok :p.

Menjadi Ibu yang cerdas

9 Desember 2005

Tulisan beberapa blogger berikut ini cukup inspiratif bagiku:

…Rasanya senang sekali waktu itu, mendengarkan siaran ulang suara saya lewat radio, kemudian seminggu setelahnya, saya diundang oleh pak wali kota untuk membacakan puisi di depan ratusan orang di balai kota ketika perayaan 17 Agustus. Oiya, waktu itu puisi yang saya baca berjudul “anak negeri” (yang ciptain mami, yang nglatih juga mami ^_^) dan sekarang, satu-satunya kalimat yang saya ingat dari puisi itu hanyalah “menerjang badai, menentang gulita!”. oleh sindy

…Ibu, yang mendaftarkan aku ikut lomba, malah yang bersemangat. Semua konsep ‘pidato’ dibuat oleh ibu. Akhirnya, demi menuruti keinginan ibunda tersayang yang suka mukul pakai sandal, sekaligus agak PD sebagai ‘mantan’ anak kota, aku maju sebagai peserta lomba. Konsep/naskah pidato sebanyak 3 halaman buku kecil yang aku hapalkan selama 3 hari aku bawa saat berdiri di depan. Dan alhamdulillah, meski sebagai peserta paling kecil (kebanyakan dari kelas 4 sampai 6), aku mendapat juara tiga dan mendapat hadiah buku dan pensil. oleh mas Mbro

Ibu Mark, Jean adalah seorang wanita yang aktif. Ketika mempunyai anak Mark dan Gwen, ia kembali ke bangku kuliah untuk menyelesaikan studynya. Sebelumnya ia bekerja menjadi seorang guru di Wales sembari mengajari Mark membaca. Oh ya Mark mengalami kesulitan baca ketika kecil karena dyslexia -sebuah keadaan dimana otak kurang mampu mencerna alphabet. Ketika anak2nya telah dewasa, Jean kembali mengambil kuliah di Open University dibidang Mapping atau Pemetaan. Hingga sekarang ia masih menekuni maapping dan GPS sembari ikut dalam beberapa penggalian geologi. oleh Ambar

Penghargaan pada Ibu-Ibu jaman sekarang banyak sekali. Kalo mau jadi Ibu yang santai-santai bisaaa, kan masih ada istilah “Surga berada di bawah telapak kaki Ibu” ^_^. Oh ya ngomong ini jadi ingat sewaktu Minggu kemarin jalan-jalan ke Toga Mas aku menemukan buku dengan judul Surga berada dibawah telapak kaki Ibu, kurang tahu isinya karena disegel rapat. Resensi di belakangnya kurang lebih seperti ini: “Kalau tidak karena diwajibkan menyembah Tuhan, maka manusia kuwajibkan untuk menyembah Ibu (bukan hadits bukan ayat Al-Quran)”. Huah, konyol!. Emm, back to topick. Dengan penghargaan yang begitu banyaknya, hendaknya calon Ibu-Ibu tidak terlena. Satu lagi contoh teladan, yang dilakukan oleh Ibu kostku dulu sewaktu di Malang, beliau selalu mensupport anaknya yang seringkali ikut lomba mewarnai dengan ikut mengarahkan warna apa yang pas untuk gambar itu. Na, kalo Ibunya gak punya sense of art seperti itu mana bisa?!. Dan hasilnya gak tanggung-tanggung lo, koleksi pialanya banyaakkk. Tapi lama-lama sepertinya beliau terlalu berlebihan menuntut anaknya berprestasi.

Lo nike, emang kamu sudah punya anak kok sok sok menulis seperti ini?. He he enggak, aku cuman mikir bagaimana caranya menjadi Ibu yang bisa memberi support sebegitu hebatnya dan bisa menjadi tempat bertanya yang nyaman bagi anaknya. How? *ting ting*. Get the point?. Cari sendiri jawabannya yah ;) .

Hmm… kapan-kapan kalo aku jadi Ibu, anakku mau tak ajari apa ya? :D Tak ajari ngeblog aja deh, hi hi hi. Trus kalo nanya yang aneh-aneh, kusuruh tanya ke Paman Googlenya aja… Nah, cukup cerdas bukan :D

Berpendapat dengan emosional

9 Desember 2005

Bagi yang pertama kali ikut dalam forum diskusi yang orang-orang didalamnya mempunyai idealisme yang jauh berbeda dengannya, dia akan berpendapat berapi-api dan penuh emosional.
Terkadang sampai berkeringat panas dan wajahnya sedikit memerah. Padahal kita tidak bisa memaksakan sebuah idealisme kita pada orang lain. Kita yang sedang diuji di dunia ini hanya berperan sebagai penasehat hukum bukan hakim.

Wahaha, membaca lagi tulisanku sebelumnya “Jangan Bilang Gampang”, kok masih emosional ya :D . Ah gak papa, lain kali aku akan menulis dengan lebih tenang :) .

Jangan Bilang Gampang

9 Desember 2005

Dulu di milis ada lelucon tentang penyakit trauma. Di milis disebutkan bahwa penyakit trauma dahulu kebanyakan trauma naik kereta api entah karena kerabatnya pernah ditimpa kecelakan atau dirinya sendiri pernah mengalami tapi selamat dari kecelakan tersebut. Sekarang penyakit trauma semakin beragam, misalnya saja trauma melihat orang botak, trauma melihat orang menangis dll. Tapi aku lupa contoh trauma apa saja yang cukup menggelikan *maaf ya*. Aku hanya mengingatkan diriku saja, apakah aku sedang trauma pada orang yang suka bilang gampang?

Long time ago, aku menjudge diriku bahwa aku tidak akan pernah percaya dengan orang yang bilang gampang. Memang secara psikologi, pernyataan “gampang” membawa angin segar tersendiri yang membuat kita jadi tenang dan percaya bahwa tugas yang dibebankan pada dia akan terselesaikan dengan baik. Tapi seiring dengan perkembangan jaman … he he tiru-tiru proposal jaman dulu, aku mencoba untuk tidak terlalu kaku dan sedikit menghentikan diri yang seringkali melakukan cek dan ricek pekerjaan teman satu tim. Tapi tapi dan tapi, ternyata tetap saja, kata gampang hanya memberikan angin segar yang semu. Bahkan angin pembawa malapetaka, hehe alias beban yang dibilang gampang tadi ternyata disaat deadline berakhir dengan ketidakberesan.

Bukankah tidak lebih sulit mengganti kata gampang dengan:
“OK, Minggu depan saya usahakan untuk menyelesaikan 60%, sisanya aku butuh bantuanmu”.
Nah, kalau begini jadi lebih jelas sejauh mana dia bisa menyelesaikan dan ada kesulitan apa. Begitu…
Sepertinya aku harus lebih bijak lagi menyikapi penyakit traumaku, karena bukan hanya orang yang suka bilang gampang saja yang tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Aku saja yang suka janji untuk mengusahakan menyelesaikan dalam waktu tertentu kadang karena alasan tertentu tidak bisa aku tepati. Nah lo gimana? Kalo mau membela diri sih, aku merasa dosaku lebih kecil dibanding dengan mereka yang berjanji dengan kata “gampang” :p .

Jadi, karena aku masih belum sembuh dari trauma ini, jika bekerja sama denganku do not say “gampang”. Tidak sulit kan? :)

Penyakit Mampir

2 Desember 2005

Like we used to be, kalo pergi rame-rame mesti adaaaa aja tempat buat mampir, meski waktu sudah menunjukkan kalo nanti bakal pulang kemaleman. Kemarin Minggu (tanggal 27 November 2005) kita pergi rame-rame lagi ke Bondowoso. Ada teman yang nikah ;) . Oh ya, pernah tidak mengendarai mobil Kijang isi sebelas orang? Hmm.. kita pernah! Lumayan melelahkan tapi sangat menghibur soalnya kita bawa teman penggembira yang gak capek ngomong sepanjang perjalanan ^_^. Kita berangkat dari Surabaya hari Minggu pukul 1.30 dini hari, dan berikut ini jadwal mampir kita yang cukup padat:

#1. Mampir di rumah Iqbal (6.30-9.00)
Nah ni tempat mampir utama buat mandi, dandan dan sarapan (hmm nyummy!). Terima kasih iqbal… Ibu, masakannya sedaaappp. Oh ya di sini ada ponakannya Iqbal yang super bandel suka nonjokin orang, tapi ga papa sih asal dia tidak melukaiku he he..

#2. Acara Inti, menghadiri walimah (10.00 - 11.00)
Dateng, langsung disambut mas Tri. Oooo ini ya yang namanya mas Tri. Lumayan friendly ;) . Dan Yeni kemanakah? Kebetulan karena kita dateng 1/2 jam sebelum acara dimulai Yeninya belum kelihatan. Na, kesempatan ngintip Yeni didandani di kamar pengantinnya. Wih, benar-benar fanatis Ijo. Kamarnya full ijooooo. Baju pengantin juga ijo, dan bunga melati di baju pengantinnya itu lohh, keliatannya kok berat banget. Ternyata nikah ribet juga :D .
Setengah jam kemudian, kedua mempelai menduduki kowade. Trus, seperti biasa ritual foto bersama. Tapi lucunya, waktu mau pulang melewati tempat walimah tadi kita di-stop disuruh turun dan foto lagi, soalnya fotografer aslinya baru dateng :D .

#3. Mampir di rumah mbak Erni (11.30-13.00)
Na, enak ni rumahnya di pinggir jalan. Gak kalah dengan Iqbal, mbak Erni dan Ibu masakin kita sayur lontong ditambah es degan. Wih wih… makan lagi… Karena aku masih kenyang (ciee…), jadinya aku bungkus buat makan malam di Surabaya :D .

#4. Mampir di rumah Abror (13.15-13.50)
Rumah Abror lumayan masuk ke jalan lebih sempit tapi asri sekali rumahnya, isi kebunnya macem-macem. Masuk ke dalem rumah langsung disambut warna-warni buah. Wah kita pesta duren lo! Kasian juga Wuland yang alergi Duren, cukup menikmati pisang di pagar rumah. Hihii

#5. Mampir di rumah Prima (14.00-14.20)
Ini rumah tempat mampir terakhir di Bondowoso. Si Iwan turun dari mobil langsung loncat-loncat ngambil mannga. Wahaha… pesta mangga euy! Oh ya ada lagi, singkong goreng dan tape goreng buatan Ibunya Prima tiada duaanya ;) .

#6. Mampir di pom bensin (16.35)
Ini mampir bukannya niat beli bensin, tapi numpang sholat!. He he.. kirain temen2 gak menjamak sholat, ternyata cuman aku yang gak menjamak sholat. Akhirnya, trimakasih teman-teman sudah sabar menungguku ^_^.

#7. Mampir sholat maghrib plus maem baso(18.15-19.00)
Karena perjalanan masih jauh, sekitar satu jam setengah lagi.. kita mampir ke masjid mana itu ya.. sepertinya Pasuruan. Setelah sholat maghrib, kok si Acik sama Iwan asik makan baso tanpa kuah. Naa.. ikutan!! Aku habis 4 baso, Ike 4 baso plus gorengan, Mbak Erni habis 4 baso, Wuland habis 4 juga, Acik?? Empat belas baso plus gorengan 3 tahu 4!. Wah ini suka apa laper?. Setelah puas menghibur Acik makan baso, kita mengakhiri perjalanan kita sampai Surabaya pukul 20.30.

Nah, apa ni hikmahnya dari perjalanan kemarin?. Makan gak makan asal ngumpul Sering-seringlah ngumpul dan mampir-mampir biar bisa makan banyak-banyak ;) .