Ikhwan wa Akhwat fillah
Tulisan ini mengcounter dari sebuah milis yang sedang meributkan eksistensi Bapak Ketua MPR kita saat ini Bapak Hidayat Nur Wahid dan kader PKS. Saya tidak perlu membahas lebih mendetail mengenai apa yang sedang diributkan. Saya tertarik pada salah satu komentar member yang tiba-tiba menyangkut-pautkan pada masalah bahasa, komentarnya seperti ini:
Pesan untuk para kader PKS, saya terus terang kurang ’sreg’ pada penggunaan
kata ‘ana’, ‘antum’,’ ‘afwan’, ‘ikhwah’. Seolah mereka tak lahir, hidup dan
berpijak di Bumi Nusantara. Apa tidak ada kata padanannya dalam Bahasa
Indonesia? Atau mereka pelan-pelan ingin membawa negeri ini agar bernuansa
padang pasir? Janganlah, kasihan Ibu Pertiwi!
Wahahaha, bagus dan lucu sekali kritiknya! Tapi tiba-tiba saya terdiam. Gimana tidak diam, itu berarti saya menertawakan diri sendiri! Maksudnya, saya juga berada di dalam komunitas yang sering menggunakan istilah-istilah asing seperti ini. Bukan hanya dalam kader PKS, tapi kebanyakan di komunitas jilbaber. Meski saya sendiri gak terlalu banyak menggunakan istilah arab, lah emang belum bisa bahasa arab
. Menurut hemat saya, dalam sebuah komunitas tertentu terkadang mereka mempunyai sebuah bahasa atau pakaian atau nama yang menjadi sebuah keunikan yang membedakan dengan komunitas lain. Bagaimana pengaruhnya terhadap lingkungan sosialnya? Hmm… apapun pekerjaannya hasilnya tergantung dari niat!
.
Seperti kasus penggunaan bahasa pada kader PKS tersebut, jika berniat hanya untuk menjaga keeksklusifan kelompoknya atau sekedar ikut-ikutan baru ini dibilang salah. Mengapa sedikit-sedikit menggunakan bahasa arab? Dari pengamatan dan berbincang-bincang langung dengan salah satu kader, penggunaaan istilah-istilah arab ini dimaksudkan untuk membuat atmosfir lingkungan yang lebih akrab. Terkadang kalo kita bertemu dengan sesama orang jawa kita akan lebih senang dan akrab bila menggunakan bahasa jawa meski sedang berada di pulau madura. Contoh lain, kalo kita bertemu dengan orang yang sama-sama suka berPerancis ria kita akan lebih senang jika bisa praktek bahasa Perancis. Dan kebanyakan orang menggunakan hal-hal unik tersebut HANYA pada komunitasnya.
Makna yang lebih dalam dari penggunaan istilah arab ini(menurut salah satu kader), diantaranya begini:
Ungkapan ukhti(perempuan), akhi(laki-laki) yang berarti saudaraku dimaksudkan bahwa dalam Islam itu tidak ada perbedaan derajat seperti panggilan “mbak”, “mas”,”adek” karena derajat manusia di hadapan Allah sama yang membedakan itu ketakwaannya. Dan panggilan saudaraku lebih pada ikatan Ukhuwah Islamiyah. Lantas kalo make padanannya, masa mo manggil “saudaraku”. Wiii jadi kayak pujangga lak an
. Trus lagi, katanya si… ustad-ustad yang ingin menjaga bahasa arabnya lebih sering menggunakan istilah arab, dan itupun terbatas sesama ustad dan di lingkungan yang sama-sama mengerti.
Jadi penggunaan istilah-istilah tertentu yang pada tempatnya tidak patut disalahkan bukan?. Meski begitu, bahasa Ibu pertiwi tidak akan punah kok
.
17.11.2005 2:19 am
ana atau anta.. atau inti dan lain sebagianya hanya simbolik arabiy (orang arab). dan bahkan cenderung kurang urgen untuk diperdebatkan.. inti dari bahasa adalah orang yg kita ajak bicara mampu menyerap dan memahami apa yang kita sampaikan.. dengan bahasa apapun kita katakan itu.
menggunakan bhs arab tidak terlarang kan? yang terlarang adalah eksklusifism dan tidak menghargai eksistensi orang lain. kenapa suka dengan simbol ? bukankah lebih bermakna kalau dengan akhlak ? dan menyebar kebersamaan ? berbeda dalam pendapat, bukan berarti salah bukan? hehehe…
18.11.2005 3:58 am
Wahai saudara perempuanku (singkatnya: ya ukhti), apakah orang yang memanggil ‘mbak nike’ tidak berarti ingin mempunyai ikatan Ukhuwah Islamiyah? Apakah orang yang memanggil ‘adek nike’ akan kehilangan ketakwaannya?
Saudaraku, menggunakan kata ’saudara’ belum tentu puitis seperti pujangga. Kalau tidak salah, Mas Gym sering menggunakan kata ini. Dan dalam kalimatnya, menurut saya juga tidak puitis amat. Tapi lebih cenderung indah dan merendah.
btw: dah pake wordpress, ya? tapi kok klo diakses dari HP layoutnya jadi kaco?! betulin dong…
18.11.2005 6:58 am
Intinya, Gunakan bahasa sesuai dengan tempatnya
Posisi salah :
mbak nike ngomong ama neneknya ” mbah ukhti yeni mau nikah ”
nah… kalau ama nenek jangan nike, kecuali kalau neneknya nike dah gaul abis (red : Good in arabic language, bener gak ?)
Orang mau manggil kita dengan sebutan apa aja, asal kita ridho nggak akan nambah dosa kan…!!!
so mo di panggil mbak ok, ukhti ok, sist ok bla bla bla
Tapi biasanya ada niatan seseorang untuk mendalami bhs arab krn kitab kita (red: Islam) adalah Alquran dengan bhs Arabnya.
dan terkadang kebawa sampai di pergaulan sehari²
So why gitu lho…
Orang bhs Inggris aja bisa jadi bhs internasional, kali aja bhs arab n indonesia bakalan nyusul…hhehehhehehe
Makanya kit jadi orang tuh yang sabar:) liat orang ngomong ama kita dg bhs inggris, kita nggak usah sewot. tapi berusaha ikut belajar
begitu juga bhs arab…. tapi inget tetep harus pada tempatnya
krn bahasa adalah alat komunikasi dan bertukar informasi dengan sesama
CMIIW
18.11.2005 7:32 am
#wasugi: ini pendapat yang beda, kenapa lebih suka dengan simbol? I think kadang simbol juga perlu, kalo kita bertemu dgn orang baru yang punya simbol sama jadi makin cepet akrab dan serasa udah sevisi/misi tanpa perlu pendekatan yang lebih lama lagi. Jadi kita sudah tahu kemana sebaiknya arah pembicaraan kita.
Jadi emang yang salah itu yang menyengajakan untuk mengeksklusifkan diri…
#mBro: Mengenai panggilan mbak,mas,adek dengan ketakwaan. Ekstrimnya dalam adat jawa, ketika kita memanggil mas atau mbak ada sekat kesungkan-sungkanan, ‘kudu’ menghormati dan cenderung tidak memperhatikan pernyataan yang lebih muda sekalipun itu baik. Maka, tidak selayaknya kita menilai makna dari sebuah perkataan dengan memperhatikan usia, bisa jadi yang lebih muda yang lebih dalam makna katanya karena terpancar dari ketakwaannya.
Contoh panggilan ’saudaraku’ pada Aa Gym. Ah itu kan seringnya waktu ceramah dan forum yang formal. Coba di perbincangan sehari-hari: “saudaraku wasugi, saudaraku mBro dan saudariku vita yang aku cintai karena Allah”. Hfff, jaki kaku deh
benahin tampilan biar enak dibaca di HP? He he sek ya, tak mikir dulu
#vita: =)) …. mbahku memang sakti, yang mbok inget mbahku
. Ok ok tengkyu tambahannya ==> gunakan bahasa sesuai dengan tempatnya dan gak perlu sewot sama pemilihan bahasa orang lain 
18.11.2005 8:45 am
jadi di milist ribut2nya pake”antum, ana, afwan, syukron” yah??
bagus dong…
dari pada “ELO…..!! GUE…!!!”
bisa bacok-bacokan ntar….hehe
21.11.2005 4:59 am
Assalamualaikum..
pengunjung baru nih..
iseng2 mampir,,,
menurut ku/gw/ana..dll..
yg penting dia, mereka ato siapapun orangnya gak merasa terusik dengan bahasa yang kita gunakan. kalo senang, malah lebih baik
tapi ya.. sip..sip..sip.. bahasannya menarik&memancing
afwan und Syukran
-nng- | November 19, 2005 @ 8:26 am
# indri: wah indri kyknya bukan orang jakarte ni ya?
# -nng- : waalaykumussalam nng (aku bacanya gmn ya? masa “enggg”
).
ohh klo menurut nng, sebelum menentukan pake bahasa apa liat dulu psikologi
ato interestnya lawan bicara. begitu?
22.11.2005 2:10 am
“Tulisan ini mengcounter dari sebuah milis yang sedang meributkan eksistensi Bapak Ketua MPR kita saat ini Bapak Hidayat Nur Wahid dan kader PKS.”
Kalo boleh aku cuma membenahi kata mengcounter ^_^
Asal kata : Me + counter = mengounter (huruf c jadi hilang setelah mendapat awalan Me)
Hehe, meski bukan pelajaran Bu Subik.. gpp kan ?
CMIIW
23.11.2005 9:17 am
aku gak dilaporin ke http://polisieyd.blogsome.com/ kan?
Mengounter? Kok jadi jelek?
Memangnya kata “counter” itu dah baku ya? Heheh klo mo ngeleburin bukannya dicari padanannya dulu?
Aduh, kali ini aku angkat tangan dulu deh. Kan belom TA. jadi gak usah belajar EYD dulu :p. Untung deh bu Subik gak baca blogku…
04.12.2005 1:43 am
mengcounter lebih “benar” secara bhs indonesia dibanding mengounter. kenapa? krn “c” dalam “counter” dilafalkan seperti “k” dalam bahasa indonesia. kalau awalan “men” ketemu “counter”, berarti sudah benar mengcounter (seperti mengkounter).
tapi paling benar adalah meng-counter (atau men-counter) karena “counter” saat ini masih menjadi bahasa asing (inggris), jadi penggunaannya harus dengan tanda sambung “-”. sudah benar penulis menulis “counter” dalam huruf miring (standar untuk kata2 asing).
06.12.2005 1:37 am
wow, ada guru bahasa Indonesia mampir
.
Emang bener to yg tak tulis? ^_^.
Thx ya feedbacknya.
Btw, ada apa dengan blogmu? Susah kali aksesnya…
20.01.2006 2:15 am
kl aq bysanya dpnggil “de dedi” wlw uda 22 thn.dpanggl pake “akhi dedi” jg oke, asal jgn “abi dedi” krn blm nikah lho! he.hee. gmn nich mba2ku eh. ukhti2? bs kenalan ga, eh ta’aruf ga?
dee-dee | January 16, 2006 @ 9:41 am
ok, salam kenal aki dedi.. loh ^_^v.
20.03.2006 2:05 am
ass, sy darman… pengunjung baru
wah…rame ya..
malah +bingung nih, menurutku gak hrs menyalahkan satu dengan yg laen, lebih menggunakan sesuai dgn kesenangan lawan bicara kita..dalam keseharian aq biasa manggil dengan sebutan mas, mbak…yg penting nuansa yg dihadirkan saling menghargai satu sama laen…oh ya ukhti2.. ana bisa kenalan ga, maksudnya ta’aruf ga…
DarmaN | March 18, 2006 @ 7:11 am
waalaykumussalam darman…
ukhti2?? oo, di sini ukhtinya, nike, vita sama geek girl. selamat datang di blog ini
15.03.2008 9:59 am
assalamualikum
ah masa gitu aja diperdebatin sih?ana sih bukan anggota pks aja seneng ngomong kata2 kayak ukhti ,ana,dllllllll
sama temen2 ana dskul,alasanna simpel
menurut ana itu lebih sopan and 100% temen2 ana di skul ga merasa terusik dengan sebutan itu,palingan kalo ada yang ga ngerti langsung nanya,’rahma,artinya anti apa?’ nah kalo ana dah kasih tahu,beres aja tuh.bahkan para temen rahma yang AGJ(anak gaul jakarta) ga masalah
lagian kok sampai kepikiran mempunahkan bahasa pertiwi?
secara cuma bahasa percakapan panggilan ke orang lain gitu.
ana emang masih fakir yah ilmuna tapi menurut ana ga masalah,itu kan salah satu hal yang ga salah sama sekali.
gt aja
wassalamualaikum
18.03.2008 1:13 pm
hm…. kok ana bingung mau ngomentari antum ya…
kalo menurut ana sih kalo kita membiasakan diri dengan ana antum, afwan, sukron, waw keren banget
ana malah lebih ngerasa kok kita kayak saudara bangeeeeeeeeeeet gitu dengan panggilan seperti itu.
bener kata yang di atas tadi kalo bilang lo gue, gue lo Yu, n ai (kata meriam Belina) kesannya agak gimana gitu.
apalagi kalo terjadi kelebihan penekanan intonasi bisa babak belum yang ngomong hehe
cuma ya… sikonnya kudu di liatin.
ana mau bilang itu aja deh sama antum
29.03.2008 9:02 am
Assalamu alaikum
wah seru yah…..padahal sebenarnya masalah ini sepele… dan tidak sepantasnya di perdebatkan. Memang sih pada era 80 an…saat dimana dakwah di kampus-kampus mulai semarak,,,,,,,kalau boleh dikatakan hampir semua aktifis Islam cenderung menggunakan panggilan dalam bahasa arab dalam bergaul dan bersosialisasi. Menurut saya hal ini untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa mereka dari kelompok dakwah (tarbiyah), (haraki). Tanpa sadar ini sesungguhnya telah mengarah ke eksklusivisme. Juga sebagai simbol dan identitas untuk bisa salaing mengetahui bahwa mereka adalah kelompok dakwah. sebutan “ikhwan”, “akhwat” sesungguhnya dalam dunia pergerakan Islam itu di alamatkan kepada soerang laki-laki dan perempuan muslim, yg memiliki pemahaman cukup baik terhadap agama Islam. Mereka memiliki akhlak yg baik, menutup aurat dan jilbabya besar-besar, suka puasa sunnah, tahajjud ok dan lain-lain sebagainya. Inilah sesungguhnya muatan yg terkandung dari apa yg mereka maksud dengan ikhwan atau akhwat. Dari sisi bahasa ikhwan itu kan saudara laki-laki, dan akhwat itu panggilan untuk saudara perempuan, jadi sesunguhnya tidak ada yg salah sepanjang pada penggunaannya sesuai dengan sikontol (situasi kondisi dan toleransi). Hanya saja kalau boleh kasi saran, jangan lah ia kemudian menjadi sekat antara para ikhwan dan akhwat untuk bergaul dengan saudara muslim yg lain yg belum sepaham dengan kita. Kita juga harus menghindari jangan sampai kita terjebak dalam eksklusivisme…..dimana setan bisa saja menggiring kita untuk bersikap ujub dan takabbur yg pada akhirnya akan merugikan diri kita sendiri. Dan tentunya ini bukan menambah bagus peluang kita untuk mengajak orang lain ke dalam Islam, bahkan sebaliknya dengan sikap seperti itu, orang makin tidak tertarik untuk mempelajari Islam.
Allahu ‘alam bisshowab
Ikhwan
di bumi Allah
06.08.2008 11:37 pm
cuma mampir..www.ahlussunnah-wonosobo.blogspot.com
08.09.2008 10:11 pm
assalamu’alaikum
berkunjung
salam ukhuwah
wassalamu’alaikum
04.11.2008 4:41 pm
salam kenal