Penyakit suka menunda apakah memang harus dimusnahkan?
Seharusnya tidak! Karena manusia tidak hanya punya akal tapi punya rasa.
Rasa yang datangnya tidak terduga, tidak seperti akal yang masih bisa dikotak-kotakkan.
Ketika kita mengerjakan sesuatu dan kita menikmatinya ingin rasanya waktu itu berhenti sejenak memanjakan enersi dan pikiran yang sedang menghangat. Tapi tidak di dunia fana ini, waktu terus berkejaran dengan kepentingan-kepentingan lain yang berteriak-teriak meminta perhatian kita.
Jangan coba-coba melawan, kata waktu. Karena jika kamu melawan kamu akan kehilangan banyak kesempatan dan kamu banyak merugi
Hiks! Aku yang masih suka menunda dan bertumpuklah kewajibanku, pun di bulan Rhamadan ini. Jadi kenapa masih ada syetan? Apakah syetan telah memberi “tato” keburukan pada diriku? Sehingga sekalipun syetan dipingit di bulan ini, “tato” ini telah membekas mendarah daging!
Kalo gitu “tato” ini harus dibersihkan dengan Istighfar. Oh tidak cukup, harus ditambahi kemauan untuk berdiri dan beranjak melakukan sesuatu sesuai dengan rencana!
Tulisan ini dimuat pada
hari Thursday, 20 October 2005 pukul 4:35 am Sekitar Kita
Anda dapat memberi tanggapan, atau membuat trackback dari blog Anda sendiri.
Tanggapan-tanggapan baru pada tulisan ini dapat dilihat melalui RSS 2.0.
Penyakit suka menunda apakah memang harus dimusnahkan?
Seharusnya tidak! Karena manusia tidak hanya punya akal tapi punya rasa.
Rasa yang datangnya tidak terduga, tidak seperti akal yang masih bisa dikotak-kotakkan.
Ketika kita mengerjakan sesuatu dan kita menikmatinya ingin rasanya waktu itu berhenti sejenak memanjakan enersi dan pikiran yang sedang menghangat. Tapi tidak di dunia fana ini, waktu terus berkejaran dengan kepentingan-kepentingan lain yang berteriak-teriak meminta perhatian kita.
Jangan coba-coba melawan, kata waktu. Karena jika kamu melawan kamu akan kehilangan banyak kesempatan dan kamu banyak merugi
Hiks! Aku yang masih suka menunda dan bertumpuklah kewajibanku, pun di bulan Rhamadan ini. Jadi kenapa masih ada syetan? Apakah syetan telah memberi “tato” keburukan pada diriku? Sehingga sekalipun syetan dipingit di bulan ini, “tato” ini telah membekas mendarah daging!
Kalo gitu “tato” ini harus dibersihkan dengan Istighfar. Oh tidak cukup, harus ditambahi kemauan untuk berdiri dan beranjak melakukan sesuatu sesuai dengan rencana!
Tulisan ini dimuat pada
hari Thursday, 20 October 2005 pukul 4:35 am Sekitar Kita
Anda dapat memberi tanggapan, atau membuat trackback dari blog Anda sendiri.
Tanggapan-tanggapan baru pada tulisan ini dapat dilihat melalui RSS 2.0.