Pintar yang suka membodohi orang
Di Indonesia yang kata banyak orang Indonesia sendiri “mlempem” dan bermental buruk, ternyata masih buanyakkk orang-orang mulia. Di sini saya persempit lagi orang-orang mulia tadi yaitu orang-orang pintar yang gak pelit ilmu.
Salah satu kemuliaan mereka terbukti ketika di lingkungan akademis. Biasanya tugas-tugas yang numpuk begini menjadi saksi bisu atas kemuliaan mereka. Orang-orang pintar yang punya kewajiban pribadi sendiri untuk menyelesaikan tugasnya rela ikut-ikutan gak tidur semaleman meladeni “pasien-pasien” yang memohon bantuannya. Gak sedikit juga cerita-cerita memilukan terjadi, pasien-pasien tadi lebih gampang jalan lulusnya bahkan bisa menyandang nilai A! Sedangkan orang pintar tadi, karena kebanyakan meladeni teman-temanya, dirinya sendiri kalang kabut, laporan-laporannya gak lengkap! Hasilnya bisa jadi dia sendiri mengulang. Wih, tragis sekali!
Bagus-bagus, mereka sungguh mulia. Tapi di dunia ini kan seharusnya berjalan seimbang/proporsional. Kalo mo bantu orang lain, ukur dulu kekuatan pribadi. Kalo memang belum bisa membantu bilang saja “maaf, anda sedang tidak beruntung”. Tapi eh, ada ungkapan seperti ini, “sungguh mulia orang yang masih bisa membantu meski keadaannya sendiri terjepit” atau “bersedekahlah di kala lapang dan sempit”. Menurut pendapat pribadiku, boleh seperti itu asal kita sendiri sanggup mempertanggungjawakan apapun yang terjadi setelahnya. Kalo buntut-buntutnya menggerutu, jadi bukan ladang amal lagi bukan??. so, kalo dirasa masih bisa ikhlas, ya.. do it!
.
Tulisan di atas masih menceritakan sisi mulianya orang pinter. Sekarang saya berpendapat mengenai sisi ketidakmuliaan mereka, yaitu ketika membantu orang salah tempat dan salah waktu. Penjahatnya orang pinter menurutku belagak pahlawan padahal sebenarnya penipu. Misalnya mau ngerjain tugas-tugas orang lain 100% padahal dia bukan 1 kelompok dengannya atau mau jadi server di kala ujian. Saat ini teman-temannya bersorak sorai gembira dengan “kebaikan” nya, tapi… tunggu saatnya mereka benar-benar kecewa. Ya.. karena mereka juga butuh belajar.