Arsip bulan September, 2005

Pesan Tentang Dakwah

29 September 2005

x: Eh ya, gimana perkembangan rencana ****** yang dulu?

y: Masih menunggu ijin dari Bapak ******. Bapaknya sibuk terus, mungkin besok bisa diusahakan tanggapan pastinya.

x: O..ya gpp. Serahkan semua sama Allah. Allah yg memberi, Dia juga yg menahan. Dan atas segala sesuatu Dia Maha Kuasa. Allah tidak akan menanyakan hasilnya. Tapi, apa usaha kita untuk agama Allah ini, jika tidak berhasilpun Insya Allah Allah udah mencatatnya sbg amal sholih…. Tidak perlu kecewa atau putus asa, perjuangan harus ttp sampai kapanpun. Masih banyak ladang dakwah yg menunggu kita.

Pesan Tentang Dakwah

29 September 2005

x: Eh ya, gimana perkembangan rencana ****** yang dulu?

y: Masih menunggu ijin dari Bapak ******. Bapaknya sibuk terus, mungkin besok bisa diusahakan tanggapan pastinya.

x: O..ya gpp. Serahkan semua sama Allah. Allah yg memberi, Dia juga yg menahan. Dan atas segala sesuatu Dia Maha Kuasa. Allah tidak akan menanyakan hasilnya. Tapi, apa usaha kita untuk agama Allah ini, jika tidak berhasilpun Insya Allah Allah udah mencatatnya sbg amal sholih…. Tidak perlu kecewa atau putus asa, perjuangan harus ttp sampai kapanpun. Masih banyak ladang dakwah yg menunggu kita.

Tentang Anak Jalanan

28 September 2005

Turun ke jalan bukanlah sebuah pilihan. Tapi karena himpitan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap adik-adik mereka yang masih kecil. Mereka bersyukur sekali jika ada yang memberi 1000 atau 500 rupiah, tapi kebanyakan hanya memberi 100 perak ^_^. Turun ke jalan seperti terjun ke hutan rimba. Bagi anak jalanan perempuan, pelecehan seksual adalah hal yang paling ditakuti. Sehari dua hari mereka masih selamat dari pelecehan seksual, selanjutnya??

Ketika ada sebuah yayasan yang menaungi dan membimbing mereka, ada sebuah harapan muncul di wajah mereka. Harapan untuk tidak lagi turun ke jalan, melepaskan gelar sebagai anak jalanan, mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak, dihargai oleh semua orang, tidak ingin terpinggirkan dan selalu dituduh biang ketidaknyamanan para pengguna jalan, dll. Ungkapan-ungkapan tersebut memberi sebuah rasa optimis bagi pihak yayasan untuk mewujudkan jalan raya bebas anak jalanan.

Tapi, di sisi lain muncul rasa pesimis di pihak yayasan. Karena setelah mengikuti pembinaan selama kurang dari enam bulan mereka bertanya-tanya, “kami harus ke mana dan menjadi apa? Haruskah kami kembali lagi ke jalan? Jika nanti kami kembali lagi ke jalan, untuk apa kami cape-cape mengikuti program ini?”. Ada lagi kasus yang ingin mendapat ijazah secara instan, dengan mengikuti pembinaan dengan terpaksa selama kurang lebih 6 bulan target mereka hanya untuk mendapatkan ijazah setara SMP atau SMA, alasan klasiknya untuk melamar pekerjaan. Kasus lain lagi mengenai ketrampilan yang diberikan, seperti pada awal perekrutan yayasan berjanji untuk memberikan ketrampilan otomatif seperti yang mereka minati, tapi eh pada saat pembinaan mereka kecewa sekali karena ketrampilan yang diberikan menjahit dan potong rambut yang tidak sesuai dengan minat mereka.

Ditengah perasaan optimis dan pesimis tadi, ada sebuah kampanye:

Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan”

Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan2 yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.

Bagaimana menurut anda? Stop beri uang langsung pada mereka atau tetap memberi uang dengan keyakinan rejeki mereka datang melalui jalanan seperti harapan sebagian anak jalanan di paragraf pertama?

referensi:
http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Renungan&table=isi&id=891&next=0
http://anakteladan.org/
http://www.pikiran-rakyat.com/
http://www.ictwatch.com/saj/eng.htm
http://www.stopberiuang.or.id
http://www.google.co.id/ –> kehilangan jejak nii :D

Tentang Anak Jalanan

28 September 2005

Turun ke jalan bukanlah sebuah pilihan. Tapi karena himpitan ekonomi dan rasa tanggung jawab terhadap adik-adik mereka yang masih kecil. Mereka bersyukur sekali jika ada yang memberi 1000 atau 500 rupiah, tapi kebanyakan hanya memberi 100 perak ^_^. Turun ke jalan seperti terjun ke hutan rimba. Bagi anak jalanan perempuan, pelecehan seksual adalah hal yang paling ditakuti. Sehari dua hari mereka masih selamat dari pelecehan seksual, selanjutnya??

Ketika ada sebuah yayasan yang menaungi dan membimbing mereka, ada sebuah harapan muncul di wajah mereka. Harapan untuk tidak lagi turun ke jalan, melepaskan gelar sebagai anak jalanan, mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak, dihargai oleh semua orang, tidak ingin terpinggirkan dan selalu dituduh biang ketidaknyamanan para pengguna jalan, dll. Ungkapan-ungkapan tersebut memberi sebuah rasa optimis bagi pihak yayasan untuk mewujudkan jalan raya bebas anak jalanan.

Tapi, di sisi lain muncul rasa pesimis di pihak yayasan. Karena setelah mengikuti pembinaan selama kurang dari enam bulan mereka bertanya-tanya, “kami harus ke mana dan menjadi apa? Haruskah kami kembali lagi ke jalan? Jika nanti kami kembali lagi ke jalan, untuk apa kami cape-cape mengikuti program ini?”. Ada lagi kasus yang ingin mendapat ijazah secara instan, dengan mengikuti pembinaan dengan terpaksa selama kurang lebih 6 bulan target mereka hanya untuk mendapatkan ijazah setara SMP atau SMA, alasan klasiknya untuk melamar pekerjaan. Kasus lain lagi mengenai ketrampilan yang diberikan, seperti pada awal perekrutan yayasan berjanji untuk memberikan ketrampilan otomatif seperti yang mereka minati, tapi eh pada saat pembinaan mereka kecewa sekali karena ketrampilan yang diberikan menjahit dan potong rambut yang tidak sesuai dengan minat mereka.

Ditengah perasaan optimis dan pesimis tadi, ada sebuah kampanye:

Stop Beri Uang, Beri Kami Kesempatan”

Dengan kita berhenti memberikan “uang gampang” berarti kita telah menjadi sukarelawan pasif dalam usaha pemulihan hak asasi anak. Disatu sisi kita kasihan melihat mereka namun jika kita memberi uang maka mereka akan tetap seperti itu dan tidak mau menyambut uluran tangan dari yayasan2 yang berniat membantu mereka. Di sisi lain dengan tidak memberikan uang maka kita berharap masa depan mereka akan lebih baik dari sekarang ini.

Bagaimana menurut anda? Stop beri uang langsung pada mereka atau tetap memberi uang dengan keyakinan rejeki mereka datang melalui jalanan seperti harapan sebagian anak jalanan di paragraf pertama?

referensi:
http://www.pondokrenungan.com/isi.php?tipe=Renungan&table=isi&id=891&next=0
http://anakteladan.org/
http://www.pikiran-rakyat.com/
http://www.ictwatch.com/saj/eng.htm
http://www.stopberiuang.or.id
http://www.google.co.id/ –> kehilangan jejak nii :D

Horeeee!!!

28 September 2005

Huah, senangnya hatiku!
Merak dan rusa-rusa di samping kantorku loncat-loncat ikutan seneng ^_^.

Tak kuduga, kupikir aku dan temen-temenku bakal teraniaya terus-terusan
Fiuhhhh, 2 bulan berlalu
Fanaaassssssss!!! Gerahhhhh!!!!

Akhirnya, instruksi Dirut hari ini: AC kantorku NYALA!

Horeeee!!!

28 September 2005

Huah, senangnya hatiku!
Merak dan rusa-rusa di samping kantorku loncat-loncat ikutan seneng ^_^.

Tak kuduga, kupikir aku dan temen-temenku bakal teraniaya terus-terusan
Fiuhhhh, 2 bulan berlalu
Fanaaassssssss!!! Gerahhhhh!!!!

Akhirnya, instruksi Dirut hari ini: AC kantorku NYALA!

Teman Karib

20 September 2005

Teman tidak selalu tahu jam 10 malam apa dia sudah mandi?. Teman tidak selalu sama-sama suka daging sapi. Kalo dia suka daging sapi aku suka daging kambing, lantas bubaran berteman?

Not that simple!

Yeah, mereka yang teristimewa, teman-teman karibku yang percaya sama percaya dan tidak
saling memenjarakan.

luv u all friends :)

Teman Karib

20 September 2005

Teman tidak selalu tahu jam 10 malam apa dia sudah mandi?. Teman tidak selalu sama-sama suka daging sapi. Kalo dia suka daging sapi aku suka daging kambing, lantas bubaran berteman?

Not that simple!

Yeah, mereka yang teristimewa, teman-teman karibku yang percaya sama percaya dan tidak
saling memenjarakan.

luv u all friends :)

Pintar yang suka membodohi orang

16 September 2005

Di Indonesia yang kata banyak orang Indonesia sendiri “mlempem” dan bermental buruk, ternyata masih buanyakkk orang-orang mulia. Di sini saya persempit lagi orang-orang mulia tadi yaitu orang-orang pintar yang gak pelit ilmu.

Salah satu kemuliaan mereka terbukti ketika di lingkungan akademis. Biasanya tugas-tugas yang numpuk begini menjadi saksi bisu atas kemuliaan mereka. Orang-orang pintar yang punya kewajiban pribadi sendiri untuk menyelesaikan tugasnya rela ikut-ikutan gak tidur semaleman meladeni “pasien-pasien” yang memohon bantuannya. Gak sedikit juga cerita-cerita memilukan terjadi, pasien-pasien tadi lebih gampang jalan lulusnya bahkan bisa menyandang nilai A! Sedangkan orang pintar tadi, karena kebanyakan meladeni teman-temanya, dirinya sendiri kalang kabut, laporan-laporannya gak lengkap! Hasilnya bisa jadi dia sendiri mengulang. Wih, tragis sekali!

Bagus-bagus, mereka sungguh mulia. Tapi di dunia ini kan seharusnya berjalan seimbang/proporsional. Kalo mo bantu orang lain, ukur dulu kekuatan pribadi. Kalo memang belum bisa membantu bilang saja “maaf, anda sedang tidak beruntung”. Tapi eh, ada ungkapan seperti ini, “sungguh mulia orang yang masih bisa membantu meski keadaannya sendiri terjepit” atau “bersedekahlah di kala lapang dan sempit”. Menurut pendapat pribadiku, boleh seperti itu asal kita sendiri sanggup mempertanggungjawakan apapun yang terjadi setelahnya. Kalo buntut-buntutnya menggerutu, jadi bukan ladang amal lagi bukan??. so, kalo dirasa masih bisa ikhlas, ya.. do it! ;) .

Tulisan di atas masih menceritakan sisi mulianya orang pinter. Sekarang saya berpendapat mengenai sisi ketidakmuliaan mereka, yaitu ketika membantu orang salah tempat dan salah waktu. Penjahatnya orang pinter menurutku belagak pahlawan padahal sebenarnya penipu. Misalnya mau ngerjain tugas-tugas orang lain 100% padahal dia bukan 1 kelompok dengannya atau mau jadi server di kala ujian. Saat ini teman-temannya bersorak sorai gembira dengan “kebaikan” nya, tapi… tunggu saatnya mereka benar-benar kecewa. Ya.. karena mereka juga butuh belajar.

Agung Gun Martin

9 September 2005

Karena sebuah kepentingan, aku membaca kembali buku Aa Gym Apa Adanya. Kubuka lembaran-lembaran yang menjadi point utama pencarianku, terakhir aku niat mengembuni hati ini yang mulai gersang dengan membaca cerita Aa tentang guru spiritualnya yaitu adiknya sendiri yang badannya kian “rapuh”/cacat Agung Gun Martin yang akhirnya pergi meninggalkan kefanaan dunia ini selamanya.Innalillahi wainnailahi rajiun.

Berikut ini kalimat yang masih bisa memberikan sentuhan hati bagiku:

Suatu saat saya tanya, “Dik, mengapa jarang mengeluh, padahal kata dokternya sakitnya amat parah.” Lalu ia berkata, “Untuk apa banyak mengeluh, hanya akan membuat susah orang yang mendengarnya. Biarlah Allah yang menciptakan tubuh ini tak akan salah dalam mengukur ujian terhadap hamba-hambaNya. Mungkin orang lain bisa mulia dengan banyak amalnya dan mudah-mudahan saya punya bekal pulang dengan banyak sabarnya