Tidak ada kasus, tidak ada proses belajar
Beberapa hari sebelum kuliah, co-assku nakut-nakutin praktikum Applin. Katanya banyak yang nggak lulus. Berhubung lagi pengen merdeka, maksudnya lagi pengen mencari aktivitas lain selama liburan, aku gak nyari tau Applin itu sesulit apa.
Kebetulan 2 hari sebelum Kuliah aku ketemu salah satu “guru” waktu ada acara nikahan. Na kesempatan buat nanya-nanya gambaran praktikum Applin itu seperti apa. Aku bertanya tanpa ada penguasaan materi sama sekali. Jadi hanya dijelaskan kulit-kulitnya saja. Setelah itu, ya sudah masa mau dijelasin detail seperti waktu di kelas :p. Trus pesennya, “Ini lebih menarik kalo ada kasusnya”. Yup betul!
Dari bincang-bincang di milis juga begitu, kuliah itu untuk belajar konsep. Kalo gak pernah dicoba cepat lupa dan nilai “A” di transkip jadi lunturrrr
:D:D. Nah layaknya makanan, resep bakal terasa nikmatnya jika dicoba di dapur. Saat praktek masak, kadang kala kita lupa tidak membeli daun salam, sepele tapi mempengaruhi rasa. Ini kalau kasusnya kelupaan, kalau kasusnya duit hehehe maksudnya bahannya mahal, na kan si koki kudu pinter-pinter nyari akal pengganti bahan tapi tetap seenak yang ditampilkan di resep. Di sinilah proses belajar yang banyak menghasilkan ilmu baru!.
Begitu juga yang namanya hidup. Lo.. buntut-buntutnya kok hidup. Orang kemungkinan besar punya kasus dalam hidupnya, yang menang ya orang yang mau belajar. Katanya lagi siii, tingkat kedewasaan itu dipengaruhi oleh pengalaman hidupnya. Eit, tapi hati-hati sekarang banyak buku-buku perang pemikiran. Ada buku yang menyebutkan “mencari cahaya melalui kegelapan”. Karena dengan kegelapan orang akan banyak belajar dan mengenal arti hidup. Lo lo, kenapa jadi mencari kasus? Gak ngerasa kali ya kalo sebenarnya ada kasus dalam hidupnya yang butuh pemecahan masalah, tapi dia merasa baik-baik aja lantas nyari-nyari kasus berharap mempunyai jalan hidup yang tidak kalah unik dengan yang lain.
So, anytime anywhere kita pasti bertemu dengan kasus maka belajarlah memenangkannya!