Menepis Rasa Sungkan

Bagi orang Batak mungkin sungkan bukanlah sebuah budaya. Berbeda dengan orang Jawa yang begitu kental dengan ramah tamah dan sungkan-sungkanan. Tapi untuk masa sekarang pastilah sudah mengalami beberapa pergeseran.

Bersikap sungkan ada baik ada tidaknya. Jika sungkan ditujukan pada hal-hal untuk menghormati orang yang lebih tua sih ok ok saja. Tapi sungkan kalau mengarah pada hal-hal untuk menyembunyikan sesuatu lebih berbahaya. Karena akibatnya ada penyakit-penyakit seperti munafik dan plin-plan.

Kenapa munafik dan plin-plan? Biasanya orang sungkan cenderung berperilaku baik dan sopan di depan orang yang dikenal akhlaknya baik hanya karena alasan SUNGKAN!. Lantas di tempat lain berbuat yang sebaliknya. Contoh di depan ndoronya bilang “nggih nggih..”, tapi di dapur mengumpat-umpat.

Ah, aku ingin sekali terbebas dari jerat sungkan.

Aku ingin melakukan sesuatu di manapun dengan siapapun karena aku merasa benar, bukan didominasi oleh penjajah SUNGKAN. Seperti budayawan kita, bisa berbicara sesuka dia tapi dapat dipertanggungjawabkan. Tapi ya gitu, siap mendapat kontroversi dari berbagai pihak. ;)

Beri Komentar