Lingkunganku Nafasku

Bunglon!
Ada yang mau disebut Bunglon? Bunglon jika digunakan sebagai sebutan pada salah satu karakter manusia, cenderung diimplikasikan pada hal yang negatif. Plin plan istilahnya? Memang seperti itukah? Ada sediikit pertanyaan, kalau orang yang selalu berubah dari masa ke masa entah itu berubah semakin baik atau semakin buruk disebut apa ya? Kalau penulis meminjam istilah Bunglon, persepsinya akan rancu dengan sebutan plin-plan tadi.

Padahal perubahan pada diri manusia itu selalu ada. Mau tidak mau, jika dia masuk dalam komunitas baru sedikit banyak akan mempengaruhi cara berpikir atau karakternya. Tahu liriknya tombo ati? Salah satu baris kalimatnya seperti ini:

Wong kang Soleh kumpulono

bahasa Indonesianya berkumpullah dengan orang Soleh. Benar sangat benar sekali, sekuat apapun manusia memegang prinsipnya jika lingkungannya menyerbunya dengan masukan-masukan yang negatif, bisa dipastikan prinsipnya akan mudah sekali luntur. Lantas bagaimana mempertahankan prinsip kita? Dalam dien/agama penulis ada sebuah anjuran untuk “Merapatkan Barisan” bersama dengan orang-orang seprinsip.

Seperti nasehat seorang teman, jika memasuki komunitas baru carilah adakah orang Soleh/Seprinsip di sana? Jika ada rangkullah dia sebagai teman berjuangmu, jika tidak ada carilah teman untuk menemanimu atau tinggalkan komunitas itu.

Apakah anda selama ini merasakan hal yang sama? Anda berubah saat ini karena lingkungan anda atau anda “sendirian” membentuk lingkungan tersebut?

Beri Komentar